Sabtu, 26 Agustus 2017

Riwayat 2: Untuk yang pernah...




26 Agustus 2017,
Di bawah loteng rumah

==================

Untuk yang pernah patah, berdiamlah
Untuk yang pernah sakit, tegarlah
Untuk yang pernah menyesal, perbaikilah
Untuk yang pernah terpuruk, bangkitlah

Langkah yang dulu tak perlu kau ulangi
Karena air tak pernah mengalir di sungai yang sama
Karena hati juga tak ingin terus disakiti
Relung hatimu itu lelah, sadarkah engkau?

Mari, sama-sama kita tutup masa lalu itu
Untuk kita yang pernah tercebur dalam sebuah hubungan
Hubungan yang tak pernah dilandaskan apa-apa
Yang berimbaskan pada retaknya hati juga matinya kalbu

Mari kita beristirahat di jalan yang telah pasti
Dalam sebuah kediaman kita memperbaiki diri
Untuk tidak jatuh kepada siapa pun sebelum waktunya
Untuk cinta yang hanya bisa dirasa dalam doa

Biarlah hati ini sembuh secara perlahan
Biarlah dada ini melapang pelan-pelan
Akan ada masanya, diri ini menemukan separuhnya
Sebagai penyempurna akhlak juga agama

Air mata ini tak lagi mengalir dalam kesia-siaan
Kaki ini siap melangkah dengan penuh keikhlasan
Arah jalan yang akan mendekatkan kita pada-Nya
Bukan padanya

----------------------------------------------------------------------------

Teruntuk yang selalu menasihati dalam kebenaran
Teruntuk yang selalu menasihati dalam kesabaran



Itsfiyawn
19:14 WIB
pict by: https://id.pinterest.com/pin/652881277202094963/









Kamis, 24 Agustus 2017

Riwayat 1: Si Buntu Inspirasi

24 Agustus 2017.
Di petak kamar yang berantakan.



Waktu itu, banyak hal yang terjadi dalam hidupku dan aku tidak baik-baik saja. Begitu mudah bagiku melukis imajinasi menyenangkan demi pelarian dari dunia nyata. Karena dulu, aku menulis untuk menyenangkan hati yang lelah dengan apa yang terjadi. Sampai aku berani memposting tulisanku di sebuah situs web yang menyediakan fasilitas bagi para penulis pemula. 

Sisi melankolisku sangat kuat saat aku masih remaja. Atau memang remaja itu melankolis semua? Ah, entahlah. Tapi kemelankolisan membuat narasiku dalam membangun khayalan sungguh memuaskan. Sampai di masa itu, aku dapat menerbitkan buku. Alhamdulillah, meskipun aku bukan penulis sebesar Tere Liye atau Mbak Winna Effendi, tapi tetap saja rasanya menyenangkan menjadi penulis amatiran. 

Dan sekarang, aku sedang dilanda masa-masa sulit. Saat aku telah mendapat 'lisensi' sebagai seorang penulis dari masyarakat, aku malah berhenti menulis. Aku merasa imajinasiku yang liar menghilang seiring kesibukan kuliah yang padat. Aku kembali menjadi seorang yang hanya mengikuti alur statis hidup. Jadwal yang sudah tersusun rapi hingga setahun kedepan. Kembali menjadi si sibuk yang pulang malam. Menjadi manusia yang batu dan tak ingin menjadi 'penikmat kisah-kisah romansa'. Memang, cerita dan hidup bukan hanya tentang 'cinta'. Tapi percaya atau tidak, setiap manusia punya sisi kasih sayangnya masing-masing, punya sisi kelembutannya masing-masing, dan itu bisa menjadi modal untuk menggerakkan pena dan mulai menulis. 

Setiap kali tangan ini bergerak merangkai kata, otak kembali mengingatkan bahwa ada dateline editing menunggu. Setiap kali sebuah dunia khayal baru dibangun, tugas Algoritma Pemrograman dapat menghancurkannya dalam sekejap. Setiap kali aku ingin meluangkan waktu untuk bermesraan dengan kertas dan pena, ternyata rapat BEM menyerobot q-time-ku begitu saja. Entah berapa kali aku meniupkan jiwa ke dalam cerita baru, aku juga harus membunuhnya karena aku tidak bisa. Aku gagal. Terlalu lama ide di otak terpendam sampai ia tak bisa lagi berperan sebagai cerita yang hidup. 

Bagiku, menulis itu butuh ketenangan, butuh hati yang penuh dan dedikasi tinggi untuk tulisan itu sendiri. Bagaimana aku bisa mendedikasikan diriku untuk tulisanku jika aku selalu memprioritaskan tugas demi tugas yang ada di depanku. Tugas itu selalu silih berganti, tiada henti. Seperti looping tanpa batas dalam pemrogaman. Dan menulis hanyalah sebagai kerjaan sampingan, iseng-iseng berhadiah. Kalau untung ya ceritanya selesai dan mendapat respon baik. Kalau buntung ya paling ceritanya stuck di tengah jalan, bikin readers menunggu, dan akhirnya tidak tamat-tamat sampai negara api menyerang.

 Padahal, dalam dunia perkuliahan itu banyak yang bisa diukir dalam tulisan. Sumpah. Contohnya, tentang kisah manis di es krim Raisa. Atau tentang kakek tua penjual koran bernama Pak Sugiman, satu kampus juga kenal siapa beliau. Atau tentang dosen unik yang bisa-bisanya lupa kalau hari itu ada UAS, dan dia tidak masuk padahal kami sudah menunggunya selama satu jam. Tentang aku yang terlambat mengisi KRS sehingga tidak kebagian kelas dosen favorit dan ada orang memberikan kursinya untukku. 

Sesederhana itu bukan? 

Di setiap sudut kampus, ada cerita yang layak diabadikan. 

Aku begitu dekat dengan inspirasi juga motivasi. Tapi kedua hal penting itu seperti hanya berputar-putar di sekelilingku tanpa bisa aku tangkap. Inspirasi itu seperti kupu-kupu yang sulit aku kurung dalam toples bernama tekad. Dan motivasi hanyalah semilir angin asal lewat. Sulit dimengerti, bukan?

Semakin lama aku tidak menulis, maka semakin memudar keberadaanku di kepala orang-orang. Aku cukup sedih jika mengingat hal itu. Tapi, penaku hanya sedang bergerak dalam diriku sendiri. Mencari-cari ke arah mana ia tertuju. Pesan macam apa yang akan ia sampaikan. Seberapa besar manfaat yang pembaca peroleh saat kata demi kata mulai tersusun olehnya. Penaku hanya mencari-cari kertas jenis apa yang cocok menjadi wadahnya sehingga bisa menjadi hasil karya yang indah. 

Penaku hanya sedang berusaha mencari jati diri.

Si buntu inspirasi berharap suatu hari setelah malam ini ia diberikan kekuatan untuk membantu penanya mencari tujuan awal. Untuk apa ia menulis, untuk siapa ia menulis, dan mengapa ia menulis. Dan berharap bahwa tidak ada lagi alibi untuk tidak menulis. 

Jika ada doa yang selalu aku panjatkan kepada Allah swt. , aku hanya ingin semua pembacaku diberikan kekuatan untuk menjalani kehidupannya. Amin.

------------------------------------------------------------------------
Titip salam pada bintang, 


itsfiyawn 23:46 WIB
pict by: pinterest.com
https://id.pinterest.com/pin/420594052685254712/