Senin, 07 Oktober 2019

If I...

Kenapa menangis? 
Apa yang engkau risaukan?
Apa tuntutanmu terhadap alam?
Apa keinginanmu yang belum tersampaikan?

Jangan tanya saya mengapa air mata sialan ini terus mengalir
Sepanjang malam, tanpa saya minta
Saya sudah lelah menelaah bahwa yang saya temukan di hati saya hanyalah kekosongan
Yang saya temukan tak lebih dari rasa rindu yang tidak pernah menghilang

Rindu itu tak bisa digunakan untuk memeluk
Rindu itu tak bisa digunakan untuk menggenggam
Bahkan rindu itu saja tak bisa membuat saya tersenyum
Lantas, mengapa saya memiliki rindu ini jika hanya sia-sia?

Saya paham dari awal, jalannya akan sakit dan sulit
Tapi saya sudah terlanjur menjalani ini...
Saya menyayanginya...
Tapi... saya tak bisa menuntut apapun

Hati saya lelah jika harus menangis tiap malam
Menangis tanpa tahu apa yang saya mau dan yang saya inginkan
Sementara dada saya sesak akan rindu kepada dia yang sudah di alam mimpi
Saya adalah wanita paling egois karena hanya ingin dimengerti tanpa bisa mengerti

Berharap ditemani sepanjang malam
Padahal, Hey! Dia lelah dengan aktivitasnya seharian
Kenapa saya tak kunjung pengertian?

Berharap selalu bisa kemana-mana bersama
Padahal, Hey! Kamu belum jadi yang halal bagi dia!
Bisakah saya sabar sedikit?

Berharap selalu bisa memeluk, menyentuh, menggenggam, mengalirkan kasih sayang
Padahal, Hey! Kamu siapanya dia?
Bisakah saya tahan hasratmu?

Beberapa, hal... Ada yang tak bisa dipaksakan
Ada yang tak bisa saya kendalikan
Dan saya merasa seperti ini akhir2 ini
Adakah yang berubah dari hubungan ini?

Sepertinya...
Dia tidak bahagia bersama saya...
Dia tersiksa dengan sikap saya tapi tetap memilih bertahan
Saya memang tak pandai menjalani sebuah hubungan


Tinggalkan saja...
Saya ikhlas jika itu membuatmu bahagia...

Selamat tidur

Minggu, 06 Oktober 2019

Riwayat 5 : Mempuisikan Rasa

Kamis, 17 Januari 2018
Puisi pertama pada 2018
---------------------------------------------------------------------------

Bagai benang yang kusut nan rumit
Hati dan pikiranku takkan pernah terurai
Karena jika ia melurus
Muaranya adalah kamu 

Duhai yang senantiasa tersenyum 
Ada setitik bintang di matamu 
Yang begitu terang menyilaukan
Ah, ternyata itu jelmaan dari cita-cita dan harapan

Duhai yang kuat dan tegar
Punggung ringkihmu, masih sanggupkah? 
Semoga masih. Semoga masih
Semoga tabah. Semoga sabar

Maaf, hanya dapat memelukmu dalam doa
Menceritakanmu pada sepertiga malamku
Mendukungmu lewat tetes air mata
Merindukanmu dalam sunyi hati 

Jika kau temukan kupergi
Bukan berarti aku hilang
Aku hanya mempersiapkan diri
Untuk menjadi tempatmu bersandar

Jika kau temukanku menjauh
Bukan berarti rasaku telah lenyap
Aku hanya sedang memantaskan diri
Sebelum menjadi pengiring bagimu 

Masa depan hanya sebuah teka-teki
Yang bisa kita pecahkan bersama
Sejatinya kita bisa bertemu pada satu titik
Yang hanya tertuju pada-Nya

Aku harus menjadi yang kuat, agar pantas kau sandar
Aku harus menjadi bahagia, agar bisa menghapus kesedihanmu
Aku harus menjadi tenang, agar bisa menyejukkanmu 
Aku harus menjadi tangguh, agar bisa menguatkanmu

Maaf, untuk saat ini aku hanya bisa diam
Percayalah, dalam doaku namamu menggema
Jika ada satu permintaanku kepada-Nya
Semoga kau selalu dalam lindungan-Nya

Maaf, jika aku tak bisa banyak membantu
Aku juga tak banyak terlibat dalam segala kesusahanmu
Aku tidak bisa berbuat apa-apa
Aku hanya merasa sakit saat kau sakit 

Tapi percayalah, jika waktu sudah tiba
Dan kita bersama dalam ridha-Nya
Aku akan selalu mengiringimu kemanapun kau pergi
Aku akan menggenggam tangamu dalam berbagai keadaan

Sekarang, aku hanya bisa berdoa
Semoga rasaku bukan sebuah nafsu belaka
Semoga aku selalu berdiri di tempat yang sama
Pada doa yang tertuju untuk insan yang sama

Semoga hatiku tak dikuasai kelabilan
Hingga ia bisa menyayangimu tulus dalam doa
Bisa melabuhkan rasa ikhlas semata karena-Nya
Mari, kita sama-sama memperbaiki diri 

-Itsfiyawn 22:44 WIB